Dalam beberapa tahun terakhir, marketplace menjadi jalur utama banyak UMKM Indonesia untuk menjual produk. Dari makanan ringan, fashion, produk digital, jasa kreatif, sampai kebutuhan harian, semuanya terasa lebih mudah karena ada platform besar yang menyediakan traffic, pembayaran, promosi, dan sistem pengiriman. Namun, kemudahan itu kini datang dengan harga yang makin berat. Banyak pelaku usaha mulai merasakan potongan, biaya layanan, biaya admin, ongkos promosi, sampai biaya tambahan lain yang membuat margin semakin tipis. Di saat yang sama, kondisi ekonomi Indonesia juga sedang tidak ringan. Rupiah bergerak tertekan, pasar saham berfluktuasi, daya beli sebagian masyarakat melemah, dan biaya operasional terus naik.
Situasi ini membuat pelaku usaha kecil berada di posisi yang sulit. Di satu sisi, mereka butuh marketplace karena pembeli sudah terbiasa mencari produk di sana. Di sisi lain, semakin besar ketergantungan pada marketplace, semakin kecil ruang untuk mengatur margin dan hubungan langsung dengan pelanggan. Banyak penjual akhirnya menaikkan harga untuk menutup biaya platform. Masalahnya, ketika harga naik, pembeli bisa pindah ke toko lain. Jika harga tidak dinaikkan, penjual yang menanggung tekanan margin. Ini seperti dilema yang tidak ada ujungnya.
Kenaikan biaya platform bukan hanya soal angka di laporan transaksi. Dampaknya terasa sampai ke strategi bisnis harian. Penjual harus menghitung ulang harga produk, ongkir, diskon, voucher, biaya iklan, dan komisi. Banyak UMKM yang awalnya merasa untung karena penjualan ramai, baru sadar bahwa keuntungan bersihnya kecil setelah semua potongan dihitung. Bahkan ada bisnis yang terlihat sibuk setiap hari, tetapi kasnya tidak sehat karena margin habis untuk biaya promosi dan potongan platform.
Dalam kondisi ekonomi yang melemah, strategi “jualan sebanyak-banyaknya di marketplace” perlu dilengkapi dengan strategi lain: membangun kanal sendiri. Kanal sendiri bukan berarti meninggalkan marketplace sepenuhnya. Marketplace tetap berguna sebagai etalase besar dan sumber traffic. Namun, UMKM perlu punya jalur alternatif untuk mengenalkan brand, mengumpulkan minat pelanggan, menaruh katalog, mengarahkan ke WhatsApp, membagikan portofolio, dan menjaga hubungan langsung dengan pembeli. Di sinilah platform seperti Advione menjadi relevan.
Advione membantu pelaku usaha membuat halaman bio link dan profil digital yang bisa menjadi pusat link bisnis. Dalam satu halaman, pemilik usaha bisa menampilkan link marketplace, katalog, WhatsApp, media sosial, portofolio, promo, event, sampai produk unggulan. Tujuannya sederhana: jangan biarkan seluruh perjalanan pelanggan hanya dikendalikan platform besar. Ketika pembeli menemukan brand di media sosial, konten video, broadcast, kartu nama digital, atau komunitas, mereka bisa diarahkan ke satu halaman yang rapi dan mudah dipahami. Dari sana, pembeli bisa memilih jalur transaksi yang paling sesuai.
Strategi ini penting karena biaya marketplace yang makin mahal membuat setiap traffic menjadi lebih berharga. Jika semua traffic langsung dilempar ke marketplace, penjual kehilangan kesempatan untuk menjelaskan brand, membangun kepercayaan, dan menawarkan alternatif kontak. Padahal, tidak semua pembeli langsung ingin checkout. Sebagian ingin bertanya dulu, melihat testimoni, membaca penjelasan, atau memastikan bahwa toko memang aktif. Halaman Advione dapat menjadi jembatan antara konten dan transaksi.
Misalnya, seorang penjual fashion bisa menaruh link katalog produk, link marketplace, tombol WhatsApp untuk konsultasi ukuran, link Instagram untuk inspirasi outfit, dan promo terbatas. Seorang kreator digital bisa menaruh portofolio, layanan, jadwal konsultasi, link pembayaran, dan kontak. Seorang UMKM kuliner bisa menaruh menu, lokasi, WhatsApp, promo bundling, dan link pemesanan. Dengan cara ini, bio link bukan sekadar kumpulan tombol, tetapi pusat kendali komunikasi bisnis.
Kondisi rupiah yang melemah juga membuat biaya bahan baku, logistik, dan layanan digital bisa ikut naik. Ketika pasar saham bergerak tidak stabil, sentimen bisnis ikut berubah. Investor, konsumen, dan pelaku usaha menjadi lebih hati-hati. Dalam situasi seperti ini, UMKM perlu efisiensi. Efisiensi bukan selalu memotong kualitas, tetapi mengurangi ketergantungan pada biaya yang tidak bisa dikendalikan. Jika sebuah bisnis hanya punya satu kanal jualan, risiko menjadi besar. Jika kanal itu menaikkan biaya, mengubah algoritma, atau menurunkan visibilitas toko, bisnis ikut terdampak.
Memiliki kanal sendiri juga membantu membangun aset jangka panjang. Akun marketplace adalah tempat berjualan, tetapi hubungan pelanggan sering kali tetap berada di dalam ekosistem marketplace. Sementara itu, profil digital, link langsung, daftar kontak, dan komunitas adalah aset yang lebih dekat dengan pemilik bisnis. Dengan Advione, UMKM bisa mulai membangun struktur sederhana: halaman utama, CTA utama, jalur komunikasi, dan link transaksi. Ini bukan solusi ajaib untuk semua masalah ekonomi, tetapi langkah realistis untuk mengurangi ketergantungan.
Ada satu hal yang perlu dipahami: marketplace tidak salah karena mencari model bisnis yang berkelanjutan. Platform besar juga punya biaya teknologi, operasional, promosi, keamanan, dan dukungan pelanggan. Namun, pelaku usaha juga berhak mengelola strategi agar tidak terjebak. Jika biaya layanan naik, penjual perlu punya ruang negosiasi dalam bentuk kanal alternatif. Jika traffic marketplace turun, penjual masih bisa memanfaatkan media sosial dan halaman bio link. Jika pembeli ingin komunikasi langsung, penjual punya jalur yang jelas.
Advione dapat menjadi bagian dari strategi bertahan di era biaya platform yang makin tinggi. Bukan untuk melawan marketplace, tetapi untuk menyeimbangkan posisi UMKM. Gunakan marketplace sebagai salah satu kanal, bukan satu-satunya tempat hidup. Bangun profil digital yang rapi. Buat CTA yang jelas. Tampilkan kontak yang mudah diakses. Susun link berdasarkan prioritas bisnis. Dengan begitu, ketika biaya marketplace makin gila dan ekonomi sedang melemah, UMKM tetap punya kendali atas cara mereka ditemukan, dipercaya, dan dihubungi pelanggan.